Kenapa Listrik untuk Data Center Jadi Rebutan?
20 GW, antrean 13.000 MW, dan kaitannya dengan tagihan listrik rumahmu
Listrik untuk data center jadi rebutan karena tiga hal bertemu sekaligus: permintaannya datang dalam gumpalan besar, jaringannya butuh bertahun-tahun untuk dibangun, dan semua orang ingin lokasi yang sama. Pemerintah menyebut Indonesia perlu tambahan 20 GW hanya untuk pusat data, setara seperlima kapasitas listrik yang ada hari ini1. Di artikel ini kita hitung angkanya, lihat siapa yang antre, dan apa kaitannya dengan tagihan listrik rumahmu.
Seberapa besar listrik yang diminta satu data center?
Waktu pertama kali saya membaca angka "100 MW" di proposal data center, saya kira itu salah ketik. Pembangkit kecil saja ukurannya segitu. Ternyata bukan salah ketik. Data center era komputasi awan butuh 10 sampai 30 MW, sedangkan data center untuk AI butuh 100 MW sampai 1 GW per lokasi1.
Supaya terasa, kita hitung. Data center 100 MW yang menyala penuh setahun memakai 876 GWh. Dibagi konsumsi listrik per orang di Indonesia tahun 2025, yaitu 1.584 kWh7, hasilnya setara pemakaian sekitar 550 ribu orang. Itu satu bangunan. Hitungan ini hitungan Finansiologi, bukan angka resmi, dan mengandaikan data center menyala 24 jam sepanjang tahun.
100 MW x 8.760 jam = 876.000 MWh = 876 GWh per tahun. 876 GWh / 1.584 kWh per orang = sekitar 553 ribu orang. Angka per kapita dari Kementerian ESDM untuk 2025.
Skala dunianya serupa. Pusat data memakai sekitar 415 TWh pada 2024, atau 1,5% listrik dunia, dan diperkirakan naik ke sekitar 945 TWh pada 20302. Satu data center AI yang biasa saja memakai listrik sebanyak 100.000 rumah tangga2.
Kalau PLN punya pembangkit, kenapa masih rebutan?
Karena masalahnya bukan di pembangkit, tetapi di kabel dan waktu. PLN sendiri mengatakan permintaan yang masuk sekarang bukan lagi 100 sampai 200 MW, melainkan 1 GW, 2 GW, bahkan 3 GW4. Untuk mengalirkan 1 GW ke satu titik, PLN perlu saluran transmisi minimal 500 kV, dan membangunnya makan waktu 3 sampai 5 tahun4.
Sementara itu antreannya sudah panjang. Per September 2026 PLN sudah memasok data center hampir 2 GW. Yang sedang diproses: 3.534 MW sebagai prioritas pertama, dan 9.460,8 MW permohonan baru4. Dijumlahkan, hampir 13.000 MW menunggu, enam kali lipat yang sudah tersambung. Ini mirip antre KRL di jam sibuk: keretanya ada, tetapi pintu dan relnya hanya sanggup menampung sekian orang per menit.
Angka dari pernyataan PLN pada 3 September 2026. Satuan MVA dan MW berbeda sedikit, di sini dipakai pembulatan PLN sendiri, "hampir 2 GW".
Kenapa semua mau di Jabodetabek dan Batam?
Data center ikut ke mana pelanggannya berada, dan pelanggannya ada di Jakarta. Dari 204 pusat data di Indonesia per Oktober 2026, Jakarta memegang sekitar 322 MW atau 55% kapasitas terpasang nasional. Batam di urutan kedua dengan sekitar 126 MW8. Rencana barunya lebih besar lagi: sekitar 1,7 GW di Jakarta dan 1,4 GW di Batam8.
PLN menyebut mayoritas data center berdiri di Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek, semuanya menempel ke sistem Jawa Bali3. Artinya beban baru menumpuk di jaringan yang sudah paling sibuk. Batam ceritanya beda: dekat Singapura yang membatasi data center baru, punya kabel laut, dan jaringannya terpisah dari Jawa. Kapasitas yang tersedia, berkomitmen, dan dalam pengembangan di Batam sudah 1,47 GW, termasuk kontrak PLN Batam dan DayOne sebesar 450 MW1. Pemerintah ingin menambah hub di Karimun dan Bintan1.
| Angka | Nilai | Sumber dan tanggal |
|---|---|---|
| Kebutuhan data center menurut PLN | 1.098 MW (2025), 2.122 MW (2026), 5.226 MW (2034) | PLN, 7 Sep 2026 |
| Tambahan yang disebut pemerintah | 20.000 MW | ESDM, 19 Okt 2026 |
| Sudah dipasok PLN | hampir 2 GW | PLN, 3 Sep 2026 |
| Antrean permohonan | 3.534 MW + 9.460,8 MW | PLN, 3 Sep 2026 |
Perhatikan jaraknya. Proyeksi PLN untuk 2034 adalah 5.226 MW3, sedangkan pemerintah bicara 20.000 MW1. Keduanya bisa benar: yang satu rencana resmi yang sudah dihitung pembangkitnya, yang lain perkiraan permintaan kalau semua investor jadi datang. Rebutan terjadi persis di celah itu.
Apa hubungannya dengan tagihan listrik rumahmu?
Di sini bagian yang jarang dibahas. Tarif listrik rumah tangga nonsubsidi tidak naik lagi pada triwulan III 2026, padahal menurut rumus penyesuaian seharusnya naik5. Selisihnya ditanggung APBN sebagai kompensasi ke PLN. Tahun 2026 anggarannya Rp245,58 triliun untuk subsidi dan kompensasi listrik, dan PLN masih mencatat piutang kompensasi Rp84,86 triliun yang belum dibayar pemerintah5.
Data center berada di sisi yang berlawanan. Ia masuk golongan industri besar yang membayar tarif penuh, Rp997 per kWh untuk I-4 per September 20266, tanpa subsidi dan tanpa kompensasi. Data center 100 MW tadi akan membayar sekitar Rp870 miliar per tahun ke PLN (hitungan Finansiologi: 876 juta kWh x Rp997). Bagi PLN, pelanggan seperti ini mirip pembeli grosir di warung: belanjanya besar, bayarnya tunai, dan tidak minta diskon. Wajar kalau PLN ingin melayaninya, dan wajar kalau pemerintah menagih supaya listriknya datang dari energi bersih.
Bukan hanya listrik, tetapi listrik yang bisa dibuktikan bersih. PLN menyebut permintaan sertifikat energi terbarukan (REC) dari data center sekitar 10.000 GWh4. Pemerintah menjawab dengan rencana PLTS sekitar 100 GWp1, dan Pertamina Geothermal menyiapkan pilot data center bertenaga panas bumi di Kamojang bersama IDPro dan Telkom9.
Apa risikonya kalau rebutannya menang semua?
Jaringan listrik tidak suka beban yang datang dan pergi mendadak. Pada 10 Juli 2024 di Virginia Utara, Amerika, sekitar 60 pusat data lepas dari jaringan bersamaan dan sekitar 1.500 MW beban hilang dalam sekejap8. Pengawas keandalan jaringan di sana menyebut sistemnya tidak dirancang untuk kehilangan beban sebesar itu sekaligus. Bayangkan hal yang sama di sistem Jawa Bali yang sudah menanggung 55% kapasitas data center nasional.
Jadi kalau kamu membaca berita "investor data center masuk Rp sekian triliun", pertanyaan yang lebih berguna bukan berapa triliunnya, tetapi berapa MW-nya, di mana, dan apakah salurannya sudah ada.
Daftar periksa saat membaca berita data center
- Berapa MW yang diminta, dan apakah itu kapasitas beroperasi, berkomitmen, atau baru rencana?
- Jaringan mana yang menanggung: Jawa Bali, Batam, atau sistem terpisah?
- Sudah ada kontrak jual beli listrik dengan PLN atau pembangkit sendiri, dan kapan salurannya jadi?
- Dari mana listrik bersihnya: PLTS, panas bumi, atau hanya sertifikat?
Cara membaca laporan keuangan perusahaan listrik dan pembangkit, termasuk PPA dan capex-nya, dilatih di kelas Akuntansi dan Laporan Keuangan di finansiologi.com.
Cek pemahaman
Dua soal singkat. Pilih jawaban untuk melihat penjelasannya.
Apakah konten ini bermanfaat?
Satu ketukan, tanpa login. Hasilnya membantu kami memilih topik berikutnya.
Bagikan artikel ini
Sumber
Analisis di atas disusun Finansiologi. Sumber berikut dipakai sebagai dasarnya dan bisa kamu periksa sendiri. Angka kecil di teks menaut ke nomor sumber di bawah ini.
Dibaca langsung:
- Kementerian ESDM, Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih dan Hub Baru di Batam, Karimun, Bintan, siaran pers 19 Oktober 2026. ↩
- IEA, Energy and AI, Executive Summary, 2025. ↩
- Bisnis.com, PLN Siap Kejar Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center Indonesia, 7 September 2026, mengutip pernyataan PLN yang mengacu RUPTL 2025 sampai 2034. ↩
- Kontan, PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek, 3 September 2026. ↩
- Kontan, Pemerintah Tahan Tarif Listrik, Beban Subsidi dan Kompensasi PLN Disorot, 1 Juli 2026, mengutip data Ditjen Ketenagalistrikan dan laporan keuangan PLN 2025. ↩
- Katadata, Daftar Lengkap Tarif Listrik PLN Terbaru per September 2026, 10 September 2026. ↩
- Kontan, Konsumsi Listrik per Kapita Naik 12% ke 1.584 kWh di 2025, 8 Januari 2026, mengutip Kementerian ESDM. ↩
Dikutip dari ringkasan:
- Batamline, Data Center AI Bisa Picu Gangguan Listrik, Batam Jadi Wilayah dengan Kapasitas Terbesar Kedua, 13 Oktober 2026, menulis ulang laporan Kompas Tekno 13 Oktober 2026 yang mengutip Data Center Map dan NERC. Halaman Kompas menolak akses otomatis saat artikel ini disusun, jadi angkanya dikutip lewat Batamline. ↩
- CNBC Indonesia, Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Siapkan Pilot Project Data Center, 4 Agustus 2026. Dibaca langsung; ditaruh di sini karena isinya pernyataan manajemen, bukan dokumen resmi. ↩
Hitungan 876 GWh, 553 ribu orang, Rp870 miliar, dan hampir 13.000 MW dihitung sendiri oleh Finansiologi dari angka di sumber di atas. Perumpamaan KRL dan warung hanya untuk menggambarkan mekanisme.
- Energi
- AI dan data center
- Indonesia